Gemajustisia.com– Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie menyoroti ancaman otoritarianisme dalam sistem presidensialisme Indonesia dalam kuliah umum di Fakultas Hukum Universitas Andalas (FH Unand), Kamis (18/25). Dalam kuliah umum bertema "Presidensialisme Indonesia: Antara Jebakan Otoritarianisme dan Penyelamatan Demokrasi Konstitusional" di Gedung Serba Guna FH Unand, Jimly menekankan pentingnya sistem check and balance yang kuat untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan presidensial. "Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia dengan presiden yang dipilih langsung rakyat harus menerapkan sistem check and balance antar cabang kekuasaan," kata Jimly dalam kuliah yang dimoderatori Beni Kharisma Arrasuli, S.H.I., LL.M. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menjelaskan bahwa sistem kenegaraan modern telah berkembang dari konsep Trias Politika Montesquieu menjadi "mikro kualitika" dan "makro kualitika" yang memerlukan kontrol lebih kompleks terhadap kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan cabang kekuasaan lainnya. Jimly juga menyoroti peran penting masyarakat sipil dan media sebagai kekuatan kontrol sosial. Menurutnya, civil society yang lahir dari organisasi negara dan NGO berfungsi sebagai pengendali kekuatan negara, sementara media berperan memastikan transparansi dan akuntabilitas kekuasaan. "Presidensialisme yang baik harus terkendali melalui social check and balances dari masyarakat sipil dan media," ujarnya. Terkait mekanisme pemakzulan presiden, Jimly menjelaskan prosedur yang dimulai dari usul DPR kepada MPR, yang dapat berlanjut ke Mahkamah Konstitusi jika terbukti ada pelanggaran hukum berat. Dalam paparannya, Jimly juga mengaitkan pembahasan dengan Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 tentang penguasaan negara atas sumber daya alam dan Pasal 10 terkait kekuasaan Presiden. Ia menegaskan pentingnya evaluasi protokol keamanan dalam unjuk rasa dan relevansi "Rule of Law" serta "Rule of Ethic" dalam mengawal sistem presidensialisme. Acara yang menarik antusiasme tinggi civitas akademika dan masyarakat umum ini ditutup dengan pesan inspiratif Jimly: "Tegakkan keadilan karena langit tidak pernah runtuh." Reporter: Yeni Kurnia Nengsih dan Fauziah Hana






_(1).jpg)














0 Comments